Tragedi Kanjuruhan: Modal Besar untuk Sepak Bola Nasional

Oleh: Adi Tahir Nugraha
(Penikmat Sepak Bola, Anggota Komunitas Fun Football Melehoy FC dan Guru MTs Persis 3 FC)

Kematian Supporter sebagai Modal Besar untuk Perubahan dan Perbaikan

Sepak bola adalah olahraga yang populer dan paling diminati oleh masyarakat dunia, tak terkecuali masyarakat Indonesia. Mulai dari anak kecil hingga dewasa-orang tua, laki-laki, perempuan—tidak ada batasan gender—mayoritas mencintai olahraga ini. Indonesia sendiri menurut data dari Nielsen Sport ada di posisi dua sebagai negara yang paling sepak bola di dunia dengan besaran angka 77% (2017), sedangkan untuk Januari-April 2022 Indonesia menempati urutan ketiga Asia dengan capaian 69% setelah Vietnam dan UEA. Posisi ini harus dilihat dan direspon sebagai peluang untuk terus berbenah ke arah yang lebih baik dari berbagai aspeknya.

Kecintaan masyarakat kepada sepak bola ini harus diimbangi dengan visi yang jelas oleh federasi supaya dapat memosisikan dengan adil tentang masa depan sepak bola Indonesia. Semua stakeholder sepak bola mesti ikhtiar keras dan cerdas untuk menjawab ekspektasi masyarakat dengan prestasi. Mulai dari menyediakan fasilitas yang baik, manajemen yang sehat, regulasi, dan sistem yang kuat.

Ekspresi kecintaan masyarakat kepada sepak bola ini dapat dilihat dari banyaknya komunitas sepak bola di berbagai daerah, bahkan komunitas supporter dengan fanatisme dan primordialisme kedaerahan masing-masing. Ini yang kemudian menjadikan sepak bola semakin menarik dan semakin hidup, bahkan tak jarang terjadi drama-drama sepak bola di kalangan para supporter.

Sepak bola memang akan lebih istimewa jika ada pemain  ke-12 atau supporter ini, kita bisa menyaksikan atraksi para supporter di stadion maupun di luar stadion termasuk di media sosial, terkadang ketegangan pertandingan sepak bola sudah terjadi sebelum pertandingan dimulai, para supporter dari kedua belah pihak dapat saling serang dengan psywar di ruang digital untuk konteks hari ini.

Kehadiran mereka menjadi pelengkap adanya pertandingan, atmosfer pertandingan pun akan semakin memanas dan dinamis. Kita bisa dan sudah menyaksikan betapa hambarnya pertandingan di stadion yang tanpa dihadiri oleh penonton.

Keberadaan supporter tentu menjadi tenaga dan energi bagi para pemain yang sedang bertanding. Apalagi jika mereka terus atraktif dan kreatif dalam memberikan dukungannya, maka akan terlihat estetik; sebab pada dasarnya kita bukan hanya menonton sepak bola, tapi juga sedang melihat kultur atau budaya dan karakter masyarakat sepak bola kita.

Sayangnya, tidak sedikit juga supporter yang terjebak pada ruang kosong mendukung dengan fanatik tetapi nirmakna. Seperti, sering terjadinya friksi dan konflik antar supporter yang tidak produktif bahkan cenderung israf (berlebihan). Kondisi ini pun sungguh menjadi ironi di tengah prestasi Indonesia dalam sepak bola yang masih terseok-seok bahkan tertinggal dan ini cukup paradoks dengan kondisi kecintaan masyarakat kita kepada sepak bola. Ada beberapa peristiwa yang memilukan disebabkan bnetrokan antar supporter, di antaranya juga bahkan menyebabkan kematian. Sayangnya peristiwa ini selalu berulang seolah tidak pernah dievaluasi dan tidak menjadi pelajaran bagi semua pihak.

Seharusnya, peristiwa meninggalnya supporter itu menjadi modal besar untuk perubahan menjadi lebih baik dari berbagai aspeknya. Terakhir, pada 1 Oktober 2022 kemarin, kita disuguhkan peristiwa yang kembali memilukan, yaitu tragedi kerusuhan di Kanjuruhan pasca kekalahan Arema oleh Persebaya yang mengakibatkan 182 supporter Arema meninggal dunia (radarbandung.id). Justru, kerusuhan ini bukan disebabkan bentrok antar supporter, tetapi disebabkan oleh faktor lain, bukan faktor tunggal.

Kita berduka, semuanya berduka, tetapi kita pun mesti melihat situasi ini sebagai bahan evaluasi yang holistik dan paripurna. Bukan ekspresi simbolik, tetapi mesti dikristalisasi kedalam formulasi regulasi yang ditrrjemahkan menjadi visi dan misi perubahan kedepan. Jangan sampai ada tragedi lagi, jangan ada korban lagi, kita akhiri semuanya dengan dewasa dan menghadirkan prestasi. Apalagi performa timnas kita di semua kelompok umur sedang merangkak naik. Kita mestinya menjadikan tragedi kematian kedua terbesar dunia dalam sepak bola ini sebagai modal besar untuk meningkatkan prestasi di kancah internasional.

 

Fanatisme, Rivalitas, dan Rasionalitas Supporter Sepak Bola

            Supporter sepak bola ini unik, mereka rela meningalkan aktifitas bahkan juga merogoh kocek untuk sebuah klub kebanggaannya; panas, hujan, jarak bukan halangan yang berarti bagi mereka untuk mengekspresikan kecintaan mereka kepada klub yang didukungnya. Itulah bentuk fanatisme kelompok supporter sepak bola. Kondisi seperti ini juga sering mendorong mereka untuk bertindak melampaui batas. Apalagi jika klub mereka sedang bertanding dengan klub rival; apapun mereka lakukan demi klubnya.

            Fenomena klub tamu menggunakan rantis pun menjadi keunikan tersendiri sepak bola nasional sekaligus menjadi budaya yang tidak indah dilihat, sebab pemain akan bertanding sepak bola bukan akan perang. Dalam fenomena yang sama, supporter tuan rumah sering juga memberi cacian, makian, juga lemparan batu dengan sentimen kebencian seolah para pemain tamu menjadi musuh yang harus dihabisi. Teror-teror semacam ini kerap terjadi di perhelatan sepak bola nasional kita.

            Fenomena ini harus segera dihentikan, kita mesti menjadi supporter yang santun, ramah, apalagi kita menganut budaya timur, dengan sistem religi yang ketat, mestinya kita mengedepankan adab dalam menjamu tamu.

            Fanatisme, rivalitas, boleh ada di setiap kelompok supporter tetapi harus diimbangi dengan rasionalitas. Bahwa kita sebagai supporter harus berpikir dan bertindak rasional dalam memberikan dukungan baik di stadion maupun di luar stadion. Bukan menjadi pendukung yang emosional yang bahkan malah membahayakan bagi klubnya sendiri termasuk berpeluang merusak sepak bola yang dicintainya itu sendiri.