Di tengah semangat kebangkitan pasca-kemerdekaan, berdirilah sebuah pesantren yang menjadi pelopor gerakan pendidikan Islam di tanah Bandung Selatan — Pesantren Persis nomor 3 Pameungpeuk. Di masa ketika bangsa baru saja belajar berdiri di atas kakinya sendiri, pesantren ini hadir sebagai pusat pencerahan, menyalakan api keilmuan dan keimanan di tengah keterbatasan.
Didirikan pada tahun 1946 oleh Ajengan Harun, pesantren ini lahir dari niat suci dan keberanian luar biasa. Berawal dari rumah sederhana, beliau memulai langkah besar dalam membangun generasi berilmu dan berakhlak. Tak ada kemewahan, hanya semangat juang dan keyakinan bahwa ilmu agama adalah cahaya yang tak akan padam. Dari titik itulah, Persis 3 Pameungpeuk mulai menorehkan sejarahnya.
Tak butuh waktu lama, pesantren ini menjadi Pesantren Persatuan Islam pertama di Kabupaten Bandung, dan ketiga di seluruh Indonesia. Sebuah pencapaian monumental yang menegaskan peran penting Pameungpeuk dalam jaringan dakwah dan pendidikan Persatuan Islam. Dari sinilah cikal bakal munculnya berbagai pesantren Persis lainnya di wilayah sekitarnya.
Setiap batu bata yang tersusun di pesantren ini adalah simbol keteguhan. Di balik bangunan yang dulu sederhana, tersimpan kisah perjuangan dan pengorbanan para pendiri, para ustadz, serta masyarakat sekitar yang bahu membahu mendirikan rumah ilmu ini. Mereka tidak hanya membangun gedung, tapi juga mendirikan harapan bagi masa depan umat.
Selama puluhan tahun, pesantren ini terus berkembang. Dari diniyyah, tsanawiyyah hingga tingkat muallimin, dari beberapa santri hingga kini ribuan. Namun satu hal yang tak pernah berubah: jiwa perjuangan dan nilai tajdid Persatuan Islam yang tertanam dalam setiap denyut kehidupan pesantren. Di sinilah karakter santri dibentuk — disiplin, berilmu, dan berjiwa dakwah.
Pesantren Persis 3 Pameungpeuk bukan hanya tempat belajar, tetapi juga kawah candradimuka yang mencetak kader umat dan kader bangsa. Mereka dididik untuk berpikir kritis, berakhlak mulia, dan siap mengabdi di mana pun berada. Karena di pesantren ini, belajar bukan hanya untuk tahu, tapi untuk berjuang dan memberi manfaat.
Kini, setelah lebih dari tujuh dekade berdiri, gema perjuangan Ajengan Harun masih terasa. Dari ruang kelas hingga majelis ilmu, dari lantunan doa hingga langkah para santri, semuanya adalah bukti bahwa pesantren ini hidup dan terus bergerak. Ia bukan sekadar lembaga, tapi warisan perjuangan yang berdenyut dalam setiap generasi.
Puluhan ribu alumninya telah tersebar di berbagai sektor: pemerintahan, pendidikan, dakwah, wirausaha, hingga pengabdian sosial. Mereka membawa nama besar Pesantren Persis 3 Pameungpeuk dengan penuh kebanggaan. Di mana pun mereka berada, mereka adalah duta kebaikan — menebar cahaya dari nilai-nilai tauhid, ilmu, dan amal saleh.
Dan kini, ketika zaman berubah dan tantangan semakin besar, pesantren ini terus meneguhkan perannya. Bukan hanya menjaga warisan, tapi juga melangkah maju — menjadi pelopor pendidikan Islam yang adaptif, modern, dan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur. Inilah Pionir PPI di Kabupaten Bandung — tempat di mana perjuangan lahir, ilmu tumbuh, dan peradaban Islam terus bertumbuh.