Penulis: Iwan Ridwan, S.Ud

Tatkala kita melayakkan diri menjadi ma’mumnya Nabi Ibrohim AS. sudah barang tentu ingin memposisikan diri menjadi ma’mun dishaff yang pertama karena shaff yang pertama merupakan shaff yang utama.
Rasulullah SAW bersabda,
لَوْ يَعْلَمُ النّاسُ ما في النِّداءِ والصَّفِّ الأوَّلِ، ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إلّا أنْ يَسْتَهِمُوا عليه لاسْتَهَمُوا، ولو يَعْلَمُونَ ما في التَّهْجِيرِ لاسْتَبَقُوا إلَيْهِ، ولو يَعْلَمُونَ ما في العَتَمَةِ والصُّبْحِ، لَأَتَوْهُما ولو حَبْوًا.
الراوي: أبو هريرة • البخاري، صحيح البخاري (٦١٥) • [صحيح] • أخرجه البخاري (٦١٥)، ومسلم (٤٣٧) • شرح حديث مشابه
Kalau manusia tahu pahala dalam adzan dan shaf pertama kemudian mereka tidak mendapatkan jalan keluar untuk mendapatkannya kecuali dengan cara mengundi, niscaya mereka akan mengadakan undian. Dan seandainya mereka mengetahui pahala bersegera ke masjid, niscaya mereka akan bersegera kepadanya. Dan kalau mereka mengetahui pahala shalat Isya’ dan shubuh, niscaya mereka akan mendatangi keduanya walaupun dengan cara merangkak’.” (Hr Bukhori ( 615), Muslim (437). dari Abu Hurairah.

Dalam hal menjadikan Imam Nabi Ibrohim AS, maka. Shaff yang pertama adalah…
Qonitan lillah (قانتا لله).
Maksud qonitan lillah dalam QS An nahl ayat 120 menurut Ibnu Katsir adalah Al muthii’i lillah (taat karena Alloh). Nabi Ibrohim adalah mampu menikrarkan dan mengidharkan Alloh, yaitu satu-satunya tuhan yang diibadahi dan ditaati.
Deskripsi nyatanya sebagaimana dalam QS As Shoffat 102-107.

Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ ٱلسَّعۡيَ قَالَ يَٰبُنَيَّ إِنِّيٓ أَرَىٰ فِي ٱلۡمَنَامِ أَنِّيٓ أَذۡبَحُكَ فَٱنظُرۡ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَٰٓأَبَتِ ٱفۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيٓ إِن شَآءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“(Maka tatkala anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim) yaitu telah mencapai usia sehingga dapat membantunya bekerja; menurut suatu pendapat bahwa umur anak itu telah mencapai tujuh tahun. Menurut pendapat yang lain bahwa pada saat itu anak Nabi Ibrahim berusia tiga belas tahun (Ibrahim berkata, “Hai anakku! Sesungguhnya aku melihat) maksudnya, telah melihat (dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu!) mimpi para nabi adalah mimpi yang benar, dan semua pekerjaan mereka berdasarkan perintah dari Allah swt. (maka pikirkanlah apa pendapatmu!”) tentang impianku itu; Nabi Ibrahim bermusyawarah dengannya supaya ia menurut, mau disembelih, dan taat kepada perintah-Nya. (Ia menjawab, “Hai bapakku) huruf Ta pada lafal Abati ini merupakan pergantian dari Ya Idhafah (kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu) untuk melakukannya (Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”) menghadapi hal tersebut.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 102)

فَلَمَّآ أَسۡلَمَا وَتَلَّهُۥ لِلۡجَبِينِ
“(Tatkala keduanya telah berserah diri) artinya, tunduk dan patuh kepada perintah Allah swt. (dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya) Nabi Ismail dibaringkan pada salah satu pelipisnya; setiap manusia memiliki dua pelipis dan di antara keduanya terdapat jidat. Kejadian ini di Mina; kemudian Nabi Ibrahim menggorokkan pisau besarnya ke leher Nabi Ismail, akan tetapi berkat kekuasaan Allah pisau itu tidak mempan sedikit pun.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 103)
وَنَٰدَيۡنَٰهُ أَن يَٰٓإِبۡرَٰهِيمُ
“(Dan Kami panggil dia, “Hai Ibrahim!)”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 104)

قَدۡ صَدَّقۡتَ ٱلرُّءۡيَآ ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجۡزِي ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“(Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu itu”) melalui apa yang telah kamu kerjakan, yaitu melaksanakan penyembelihan yang diperintahkan itu atau dengan kata lain, cukuplah bagimu hal itu. Jumlah kalimat Naadainaahu merupakan jawab dari lafal Lammaa, hanya ditambahi Wau (sesungguhnya demikianlah) maksudnya, sebagaimana Kami memberikan pahala kepadamu (Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik) terhadap diri mereka sendiri dengan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada mereka, yaitu Kami akan melepaskan mereka dari kesulitan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 105)

إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ ٱلۡبَلَٰٓؤُاْ ٱلۡمُبِينُ
“(Sesungguhnya ini) penyembelihan yang diperintahkan ini (benar-benar suatu ujian yang nyata) atau cobaan yang jelas.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 106)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَفَدَيۡنَٰهُ بِذِبۡحٍ عَظِيمٍ
“(Dan Kami tebus anak itu) maksudnya, anak yang diperintahkan untuk disembelih (Nabi Ismail). Menurut suatu pendapat bahwa anak yang disembelih itu adalah Nabi Ishaq (dengan seekor sembelihan) yakni dengan domba (yang besar) dari surga, yaitu domba yang sama dengan domba yang dijadikan kurban oleh Habil. Domba itu dibawa oleh malaikat Jibril, lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya seraya membaca takbir.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 107)

Ma’mum Ibrahim di shaff pertama adalah mereka yang dalam hidup dan kehidupan dunia ini, rela mengorbankan sesuatu karena Allah untuk sesuatu yang lebih bernilai yaitu keridloan Allah.
Setiap ujian atau musibah dalam kehidupannya hanyalah mencari keridloan Allah bukan keridloan mahluk dan mampu menyingkirkan setiap bisikan syetan dalam dirinya

الله اعلم