Penulis: Iwan Ridwan, S.Ud
Makmum (Arab: مأموم) merujuk pada mereka yang melaksanakan salat secara berjama’ah dan bertindak sebagai anggota (yang dipimpin).
Kata makmum berasal dari bahasa arab yaitu (مأموم). Kata tersebut adalah isim fa’il dari (أمم – مؤمم – ماموما) yang memiliki arti kata orang yang diimami. Berdasarkan makna dari kata tersebut, maka makmum adalah orang yang mengikuti segala apa yang diinstruksikan oleh seorang imam.
Sifat-Sifat ma’mum
1. Iqtida’
Kata (اقتداء) secara bahasa diartikan panutan, sedangkan menurut istilah, kata Iqtida’ memiliki arti, orang (makmum) yang menjadikan imam sebagai panutan.
الدين يصلون و يقتدى
بالامام
2. Ta’assi
sifat ma’mum yang kedua adalah Ta’assi (تأسّي), Menurut bahasa artinya adalah teladan. Sebagaimana Firman Allah SWt:
لقد كان لكم في رسول الله اسوة
Ta’aasi merupakan sifat dari Ma’mum
Berdasarkan Firman Allah diatas (Qs Al Ahzab: 21), maka hakikatnya seorang ma’mum yang sedang sholat, sesungguhnya sedang melakukan Ta’asi kepada seorang Imam mereka.
3. Itiba’
Sifat ma’mum yang ketiga adalah itiba’ kata (اتباع), secara bahasa adalah mengikuti seseorang. Sementara kata Ittiba’, tentu itiba’a itu bukan taqlid buta kepada Imam.
Ketiga sifat ma’mum ini sangat erat dengan prilaku imamnya (pemimpinnya).
seorang imam dalam sholat menjadi iqtida, ta’asi, bagi ma’mum sepenjang sholatnya benar, jika sholat imam ada yang salah ma’mum diperintah untuk mengingatkannya
قال رسو ل الله ص : اَلتَّسْبِيحُ لِلرِّجَالِ , وَالتَّصْفِيقُ لِلنِّسَاءِ
Rasulullah saw bersabda: “Dengan mengucapkan tasbih untuk kaum lelaki dan bertepuk tangan bagi kaum wanita (dalam mengingatkan imam yang salah-pent).”
Seorang folower (ma’mum) dalam berjam’iyah (berorganisasi), atau bernegara tidak sedikit yang taqlid buta kepada imamnya (pemimpinnya), malah bisa mengakibatkan kemusyrikan. Al Qur’an telah memberikan contohnya dalam kisahnya Fir’aun.
karena ma’mum fir’aun (rakyatnya tidak ada yang berani mengingkatkan karena kekejaman dalam memimpinnya, bahkan orang orang dekatnya lebih memilih jadi penjilat, sehingga fir’aun mengatakan “aku lah tuhan yang maha tinggi” (Qs. An naji’at: 24)
Dalam organisasi Islam, ada juga yang berkeyakinan bahwa semua yang dikatakan dan diminta imam (pemimpinnya), wajib diikuti dan ditunaikannya dengan berdalih sam’an wa tho’atan. Padahal sam’an wa tho’atan hanya dalam haq (kebenaran), Rosululloh Saw bersabda :
لا طاعَةَ في مَعْصِيَةٍ، إنَّما الطّاعَةُ في المَعروفِ.
الراوي: علي بن أبي طالب • البخاري، صحيح البخاري (٧٢٥٧) • [صحيح] • شرح حديث مشابه
Berhati hatilah bagi mereka yang diamanahi menjadi imam sholat, Imam keluarga,imam organisasi,Imam dalam bermasyarakat (pemerintah), jangan sampai follower nya menjadi penjilat atau musyrik kebijakan, sehingga tidak berani meluruskan, karena imamnya egois (Ananiyah) seperti fir’aun.
IBROHIM AS IMAM KITA
Ibrahim a.s adalah salah satu nabi yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan risalah tauhid dan mengajak manusia untuk meninggalkan penyembahan berhala dan segala bentuk kesyirikan. Beliau adalah bapak para nabi dan rasul, dan juga nenek moyang dari Nabi Muhammad SAW. Kisah nabi Ibrahim a.s penuh dengan ujian, pengorbanan, dan keajaiban yang menunjukkan keimanan dan keteguhan hatinya dalam mengikuti perintah Allah SWT.
Nabi Ibrahim a.s dilahirkan pada tahun 2295 SM di negeri Mausul , di tengah-tengah masyarakat jahiliyah yang menyembah berhala-berhala yang terbuat dari kayu dan batu. Ayah beliau bernama Azar , yang merupakan seorang seniman yang ahli membuat patung-patung tersebut. Beliau juga masih keturunan dari Sam bin Nuh , yang merupakan anak dari Nabi Nuh a.s.
Nabi Ibrahim lahir di zaman raja Namrud. Raja Namrud adalah penguasa Kerajaan Babylonia. Pada suatu ketika, Raja Namrud mendapat firasat dalam mimpinya bahwa ada seorang anak laki-laki yang akan membuatnya susah dan kelak akan meruntuhkan Kepemimpinannya.
Maka raja Nambrud membuat kebijakan semua Anak laki laki yang ada di Babylonia harus dibunuh.
Wafatnya Nabi Ibrahim ketika memasuki umur seratus lima puluh, Allah menampakkan uban pada rambut Nabi Ibrahim. Ulama berkata, “Alasan Allah memunculkan uban kepada Nabi Ibrahim adalah karena Ishaq, putra beliau sangat mirip dengan beliau. Masyarakat disekitar tempat tinggal beliau tidak bisa membedakan antara keduanya. Orang datang kepada Ishaq dan menyangka bahwa dia adalah Ibrahim. Orang tersebut menyapa, “Assalamualaikum, wahai kholilullah.”
Akhirnya Ishaq menjawab, “Aku adalah anak dari kholilullah. Ia lebih baik dari pada aku. Dia bak tuanku dan aku ibarat budaknya.” Saat orang-orang mulai tidak bisa membedakan antara Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq maka Allah memberinya tanda berupa uban.
Alloh SWT berfirman :
ان ابرهيم كان امة قانتا لله حتيفا و لم يك من المشركين
شاكرا لآنعمه اجتباه وهداه الي صراط مستقيم
” Sesungguhnya Ibrahim itu adalah seorang Umat, tunduk patuh kepada Alloh dan lurus (condong kepada kebenaran) dan sekali kali dia bukanlah termasuk orang orang yang menyekutukan Alloh. Lagi yang mensyukuri ni’mat ni’mat Alloh, Alloh telah memilih dan menunjukkannya kepada jalan yang lurus. (QS. An Nahl 120-121)
Kata umat di dalam al Qur’an memiliki berberapa arti ;
1. Umat bermakna sekelompok makhluk/manusia
Allah SWT berfirman:
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ ۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
“Hendaklah ada di antara kamu satu umat (sekelompok manusia) yang menyeru kepada kebaikan dan menyuruh kepada yang makruf dan melarang dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung”.
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 104)
2. Umat bermakna qurun waktu.
Allah SWT berfirman:
وَقَالَ ٱلَّذِي نَجَا مِنۡهُمَا وَٱدَّكَرَ بَعۡدَ أُمَّةٍ أَنَا۠ أُنَبِّئُكُم بِتَأۡوِيلِهِۦ فَأَرۡسِلُونِ
“Dan berkatalah orang yang selamat di antara mereka berdua dan ia teringat) kepada Nabi Yusuf. sesudah beberapa waktu lamanya “Aku akan memberitahukan kepada kalian tentang orang yang pandai menakwilkan mimpi itu, maka utuslah aku kepadanya.”(QS. Yusuf 12: Ayat 45)
3. Umat makna agama.
Allah SWT berfirman:
بَلۡ قَالُوٓاْ إِنَّا وَجَدۡنَآ ءَابَآءَنَا عَلَىٰٓ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰٓ ءَاثَٰرِهِم مُّهۡتَدُونَ
“Bahkan mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami mengikuti jejak-jejak mereka sebagai petunjuk kami.”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 22)
4. Umat bermakna Imam.
Alloh SWT berfirman :
ان ابرهيم كان امة قانتا لله حتيفا و لم يك من المشركين
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang umat (Imam), tunduk patuh, hanif dan sekali kali dia bukanlah termasuk orang orang musyrik. (Qs. An Nahl: 120)
Kalimat umat pada QS An Nahl: 120 diatas bermakna Imam, seorang imam barang tentu memerlukan/membutuhkan ma’mum, tidak mungkin ada imam klo ma’munnya tidak ada, maka Yahudi dan Nashoni berebut (mengklaim) menjadi ma’mumnya Nabi Ibrahim.
Kata yahudi :
ان ابرهيم كان يهوديا
Sedangkan kata nashroni :
ان ابرهيم كان نصرانيا
Kemudian dijawab oleh Alloh dalam Al qur’an.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا كَانَ إِبۡرَٰهِيمُ يَهُودِيًّا وَلَا نَصۡرَانِيًّا وَلَٰكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسۡلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ ٱلۡمُشۡرِكِينَ
“(Ibrahim itu bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani tetapi ia adalah seorang yang hanif) artinya menyimpang dari semua agama menuju agama yang lurus (lagi menyerahkan diri) dan bertauhid kepada Allah (dan sekali-kali bukanlah ia dari golongan musyrik).”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 67)
Sesungguhnya yang berhak menjadi ma’mum Ibrahim adalah orang yang mengikuti Jejak langkah Nabi Ibrahim As
Allah SWT berfirman:
إِنَّ أَوۡلَى ٱلنَّاسِ بِإِبۡرَٰهِيمَ لَلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا ٱلنَّبِيُّ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ۗ وَٱللَّهُ وَلِيُّ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ
“Sesungguhnya orang-orang yang lebih dekat artinya lebih berhak kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini yakni Muhammad karena cocok agamanya dengan agama Ibrahim dalam kebanyakan syariatnya serta orang-orang yang beriman di antara umatnya. Merekalah sebenarnya yang sepatutnya mengatakan bahwa mereka mengikuti agamanya dan bukan kamu.Dan Allah adalah wali orang-orang yang beriman artinya pembela dan pelindung mereka. Ketika orang-orang Yahudi mengajak Muaz, Huzaifah dan Ammar masuk agama mereka turunlah ayat ini:”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 68)
Sangat banyak jejak jejak langkah Nabi Ibrohim yang diabadikan oleh Alloh dalam berbagai bentuk ibadah ataupun mu’amalah sebagaimana yang kita mafhumi …pertanyaannya layakkah kita menjadi ma’mum Nabi Ibrohim ?
الله اعلم