Penulis: Iwan Ridwan, S.Ud
Allah SWT berfirman:
لَّيۡسَ ٱلۡبِرَّ أَن تُوَلُّواْ وُجُوهَكُمۡ قِبَلَ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلۡبِرَّ مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ ….الاية
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah …..
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)
Menurut ahli tafsir Rasyid Ridha (tafsir al.manar 2/121), kebajikan yang termaktub dalam ayat itu mencakup tiga prinsip sekaligus.
Pertama, prinsip keimanan. Iman merupakan sumber segala kebaikan. Akan tetapi, iman yang dimaksud ayat itu adalah yang menggetarkan hati, melahirkan ketundukan, dan kepatuhan manusia kepada Allah SWT.
Kedua,
prinsip amal saleh. Ini memunculkan tak hanya kesalehan pribadi, melainkan juga kesalehan sosial. Kesalehan demikian ditunjukkan, antara lain, melalui kesediaan seseorang untuk mengeluarkan hartanya—betapapun besar rasa cintanya kepada harta itu
untuk membantu fakir miskin, anak-anak yatim, dan kaum dhuafa.
Ketiga
Prinsip akhlaq al-karimah. Ini ditunjukkan antara lain melalui komitmen dan kesetiaan yang tinggi terhadap setiap janji. Juga ditunjukkan oleh kesabaran dalam menghadapi berbagai kesulitan.
Kebaikan bukan hanya melaksanakan rutinitas ritual saja, tetapi harus selaras antara hati, lisan (tulisan) dan amalan itulah makna Iman yg hakiki . Alloh sangat benci kepada calo agama, dalam firman nya ;
كَبُرَ مَقۡتًا عِندَ ٱللَّهِ أَن تَقُولُواْ مَا لَا تَفۡعَلُونَ
“(Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. As-Saff 61: Ayat 3)
الله اعلم