Penulis: Mira Pujasmara
Perempuan, makhluk yang dikata lemah namun realitanya kadang dituntut untuk multitalenta. Mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus dan mendidik anak, atau bahkan ada yang turut mencari pundi-pundi rupiah. Bergelut dengan segudang aktivitas yang membuat tubuh lemas, pikiran terkuras, perasaan waswas, yang menurut kebanyakan orang hal ini bisa bikin tidak waras. Kondisi tersebut menjadi alasan seorang perempuan untuk memberikan self reward atas segala kerja keras.
Self reward adalah bentuk mengapresiasi diri atas segala pencapaian yang telah dilalui. Self reward memiliki beberapa manfaat, satu di antaranya yaitu dapat men-charge semangat yang mulai kendor. Reward yang diberikan bisa berbagai bentuk seperti liburan, hang out, belanja, nyalon, staycation, dsb.
Self reward nyatanya tidak selalu menjadi hal yang positif. Segala sesuatu yang berlebihan bukanlah hal yang baik, termasuk jika terlalu sering melakukan self reward dikhawatirkan akan menjerumuskan kita pada perilaku konsumtif dengan dalih memanjakan atau menyenangkan diri. Gempuran dunia digital yang semakin menjadi, turut mendorong meningkatnya sikap hedon ini. Banyak iklan-iklan e-commerce ditambah para influencer dengan beragam barang endorsenya seakan menghipnotis kita untuk terus menambah list panjang keranjang di e-commerce sampai kalap belanja di tanggal kembar. Semua itu dilakukan atas dasar self reward.
Tak hanya itu, di era digital ini juga mendorong segala hal untuk didokumentasikan juga dipublishkan. Rasanya tak afdlal jika tidak memenuhi media sosial dengan berbagai aktivitas yang dilakukan. Feed Instagram, instastory, snap wa dsb penuh dengan berbagai dokumentasi kegiatan. Makan di resto mewah jepret, memakai baju yang sedang ngetrend jepret, touch up sedikit jepret, belanja di mall jepret, hang out di kafe jepret, staycation di hotel bintang lima jepret, atau bahkan akan melakukan kebaikan pun mesti dipotret dulu. Dan lagi-lagi ini semua didasarkan atas self reward, karena ketika sudah update di medsos rasanya terbayarkan lelah dan penat selama ini.
Kita sebagai muslimah tentunya harus berhati-hati dengan jerat hedonisme yang satu ini. Islam hadir membawa kemaslahatan untuk manusia, oleh karena itu kita harus apik dalam bertindak. Islam tak melarang kita untuk memakai pakaian yang bagus, bahkan jika kita memiliki harta yang lebih tidak sepantasnya kita memakai pakaian yang lusuh dan butut, karena zuhud bukan berarti memiskinkan diri. Akan tetapi ada baiknya jika pakaian yang kita gunakan bukan hanya sekedar ikut trend juga bukan sekedar merk terkenal, tapi harus sesuai dengan syari’at juga tidak berlebihan.
Makan makanan di resto mewah, makan makanan yang sedang viral pun boleh-boleh saja, akan tetapi ada hal yang perlu kita perhatikan yaitu kehalalannya dan juga baik tidaknya untuk kita konsumsi. Dan saat kita merasa bangga bisa menikmati makanan enak, harusnya nurani kita turut terketuk betapa di luar sana banyak orang yang tidak bisa tidur karena lapar. Liburan bukan sekedar liburan, tapi seyogyanya kita mentafakkuri segala ciptaan-Nya. Hang out bukan sekedar hangout yang berujung ghibah, pamer satu sama lain, juga diiringi gelak tawa berlebihan, tapi nongkrong dengan obrolan yang bermutu dan berfaidah.
Pada dasarnya self reward tidak harus selalu berupa sesuatu yang mewah dan mahal yang pada akhirnya dapat membuat pengeluaran kita membengkak. Terkadang memang kita memerlukan self reward atas jerih payah kita. Namun menjadikan self reward sebagai pembenaran untuk bersikap konsumtif, foya-foya apalagi untuk riya itu tidaklah baik. Banyak hal sederhana yang bisa membuat bahagia, karena sejatinya bahagia itu bukan tergantung barangnya, tapi hati kita yang senantiasa bersyukur dan pikiran kita yang senantiasa positif (husnuzhan).